Tempat Keramat Gunung Lawu

Posted on

Di atas ketinggian 3.265 meter dari permukaan laut, puncak Gunung Lawu yang merupakan bentukkan dari sisa kawah tak aktif, menjadi daerah tujuan wisatawan menikmati lembah Tawangmangu yang menawan, Sarangan dengan danau indahnya, birunya Laut Selatan, hingga suguhan sunset dan sunrise. Bahkan, desa dan kota-kota di sekitarnya, termasuk Solo, menyuguhkan pesona dan keindahan luar biasa jika dinikmati dari Puncak Lawu. Keindahan kian mencekam saat awan datang menebarkan selimut mayanya. Perbukitan sontak disulap bak pulau kecil berbatas lautan awan. Tak ubahnya, pengunjung seolah berada di atas awan laiknya kahyangan.

Di balik keindahan yang memukau, Puncak Lawu merupakan sosok angker yang menyimpan misteri. Setidaknya ada tiga tempat yang dikeramatkan, yaitu: Puncak Argo Dalem, Argo Dumilah dan Argo Dumiling. Diyakini Argo Dalem adalah tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya, sedangkan Arga Dumiling sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon. Sementara Arga Dumilah masih tetap menjadi misteri yang sering dipakai sebagai arena olah batin dan meditasi. Keangkeran Puncak Lawu tak lepas dari cerita tentang Raja Majapahit, Prabu Brawijaya.

Konon, melihat salah seorang anaknya, Raden Patah, masuk Islam dan mendirikan kerajaan islam di Demak, Sang Prabu yang memeluk agama Budha merasa gelisah. Muncul kegamangan tentang kelangsungan Kerajaan Majapahit. Untuk itu, dia bermeditasi, memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Wisik pun datang yang mewartakan adanya kerajaan dan agama baru. Rampung meditasi Sang Prabu berpesan kepada para abdinya mengenai saatnya ia turun dari kejayaan. Sang Prabu juga berbagi wilayah kepada para abdinya, siapa yang menguasai Gunung Lawu dan semua mahluk gaib hingga batas yang ia tentukan. Yakni ke barat hingga Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan, dan ke utara sampai pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu.

Dan Prabu Barawijaya pun moksa di Argo Dalem, dan abdinya, Sabdopalon moksa di Arga Dumiling. Tinggalah dua abdinya yang lainnya, Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Prabu Brawijaya.

Tempat Keramat Gunung Lawu

Selain tiga puncak tadi, masih banyak tempat lain di Gunung lawu yang diyakini mempunyai nilai spiritual, diantaranya:

  • Sumur Jolotundo, lokasi yang diyakini Prabu Brawijaya menerima wangsit dalam perjalanan naik ke Puncak Lawu. Gua yang gelap dan curam sedalam kurang lebih 5 meter sering dipakai untuk bertapa.
  • Lumbung Selayur, di lokasi ini terdapat sumur yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan para pengikut Prabu Brawijaya.
  • Pawon Sewu, terletak pada pertengahan perjalanan pendakian menuju ke Puncak Lawu. Di tempat ini para pengikut Prabu Brawijaya mendirikan dapur untuk memasak makanan.
  • Gua Selarong, gua ini dimanfaatkan para pengikut Prabu Brawijaya untuk bermalam sekaligus sebagai tempat pemantauan.
  • Sendang Intan, menurut kepercayaan penduduk setempat, di sendang ini para wisatawan dapat memohon berkah dengan cara minum air langsung ke mulut masing-masing dengan menengadahkan muka. Semakin banyak air yang didapat semakin banyak pula berkah yang diperoleh.
  • Jurang Pangari-Arip, bila para pendaki sudah mencapai tempat ini, mereka mempunyai harapan untuk dapat mencapai Puncak Lawu. Dari tempat ini para pendaki dapat melihat Kawah Condrodimuko.
  • Sendang Derajad, menurut kepercayaan masyarakat setempat, apabila para wisatawan mempunyai cita-cita atau niat tertentu dapat terkabul apabila mandi di sendang ini.
  • Kepatihan Tengen, lokasi ini merupakan tempat peristirahatan pengikut Prabu Brawijaya.
  • Pasar Diyeng, disini para pengikut Prabu Brawijaya mendirikan pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  • Pandean Suroloyo, di tempat ini para pengikut Prabu Brawijaya membuat pusaka dan persenjataan mereka.
  • Telaga Kuning, telaga ini merupakan tempat mandi putra-putri pengikut Prabu Brawijaya.
  • Argo Fruso, di tempat ini Raja Brawijaya menyimpan pusaka-pusakanya.
  • Kayangan, tempat ini merupakan taman yang sangat indah tempat istirahat sambil menikmati pemandangan alam yang indah.
  • Selo Pundutan, merupakan tempat untuk latihan olah kanuragan pengkiut Prabu Brawijaya dan masih dipergunakan sampai sekarang oleh para pendaki puncak Lawu.

Karena keangkerannya, siapa pun yang hendak pergi ke puncaknya diharap mematuhi aturan, yakni larangan-larangan untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.

Menurut penduduk setempat, beberapa pantangan yang tak boleh dilanggar, diantaranya jangan mendaki jika jumlahnya ganjil, karena penguasa gunung akan menggenapkannya dengan mengambil salah satu dari mereka. Pantangan lain, jangan pernah sekali-kali menyombongkan diri, misalkan dengan angkuh mengatakan bahwa mendaki Gunung Lawu tidak sulit dan sebagainya, karena akan mengalami celaka.

Related Ilmu Kesaktian:
Sejarah kyai Jabat,Maripat bertasbih persi si cepot,perintah Gaib untuk mengusir orang yang tidak kita sukai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *